06.17.2012 
Jika kau sadari, sebenarnya kita ini berada di atas jembatan yang sama, sebut saja itu sebagai cinta. yang berperan sebagai penghubung, sebagai tempat bertemu dan sebagai tempat berpijak kita. kita dua orang berbeda hingga dapat disebut sebagai satu pasangan.
namun sepertinya kau tidak menyadari, bahwa kau merusak satu per satu kayu yang telah kita bangun. sebut saja kayu-kayu itu sebagai kepercayaan, kejujuran, keterbukaan dan komitmen kita. kayu-kayu yang dahulu tersusun rapi, gagah dan megah itu kini melapuk, hendak terpuruk. karena kau membawa sesuatu yang serupa perih, melumat setiap jaringan kayu hingga inti selnya. mati.
dan entah kapan kau akan sadar, bahwa ketika jembatan itu runtuh bukan hanya aku yang terjatuh, namun juga kau. kita. jatuh. 
sudah kah kau sadar??

Jika kau sadari, sebenarnya kita ini berada di atas jembatan yang sama, sebut saja itu sebagai cinta. yang berperan sebagai penghubung, sebagai tempat bertemu dan sebagai tempat berpijak kita. kita dua orang berbeda hingga dapat disebut sebagai satu pasangan.

namun sepertinya kau tidak menyadari, bahwa kau merusak satu per satu kayu yang telah kita bangun. sebut saja kayu-kayu itu sebagai kepercayaan, kejujuran, keterbukaan dan komitmen kita. kayu-kayu yang dahulu tersusun rapi, gagah dan megah itu kini melapuk, hendak terpuruk. karena kau membawa sesuatu yang serupa perih, melumat setiap jaringan kayu hingga inti selnya. mati.

dan entah kapan kau akan sadar, bahwa ketika jembatan itu runtuh bukan hanya aku yang terjatuh, namun juga kau. kita. jatuh. 

sudah kah kau sadar??

 04.15.2012 
“satu-satunya hal yang aku sembunyikan darimu yaitu kenyataan bahwa aku benar-benar menyayangimu”
 02.8.2012 
“is there any better thing that i can do than crying? i really want to screaming and yelling like a dog barking to the night. oh moon, please don’t just hang over there. help me spitting out this feeling. oh stars, please don’t look at me like that i’m just a killer for this pain. oh sky, please turn off the light, guide me to go to bed quietly. and i will pray for you in the morning. just help me. soon.”
 02.8.2012 
“apa yang ku minta tidak lebih dari 2 jam mu untuk membuat ku merasa tenang selama 24 jam kedepan. apakah itu lebih sulit daripada 6 jam berkaraoke atau berjam-jam bermain game?”
 01.22.2012 
tiba-tiba aku teringat. pada bunga manis yang kamu berikan di hari yang begitu romantis. bagi ku.
aku tahu, ini kali pertama dan entah kapan lagi kamu akan lakukan lagi karena begitu memang bukan diri mu. 
"mau romantisnya atau sayangnya?" kata mu membela kala aku meminta manja perlakuan ala-ala drama special hari valentine. yang kemudian membuat ku menyerah pada jawaban "baiklah,sayangnya. lebih baik tidak romantis tetapi benar-benar sayang daripada romantis tapi tidak benar-benar sayang kan?" kata ku yang telah hafal betul jargon andalan mu itu.
tidak apa, yang penting pernah. toh, pernah lebih baik daripada tidak pernah sama sekali. dan kali ini tanpa ku minta. ditambah dua tangkai mawar berwarna merah dan putih beserta dua bungkus coklat bergambar hati dan ada surat cintanya juga. 
kalau saja teman yang duduk tepat dibelakang ku tidak memberi tahu bahwa ada sesuatu di laci meja ujian ku, mungkin aku tidak akan tahu bahwa ada sesuatu yang spesial di valentine saat itu. ketika ku rogoh laci itu, aku langsung menyentuh benda yang aku kenali sebagai bunga. takut untuk menariknya keluar, aku mengintip laci itu. tertata manis 2 kuntum mawar di atas 2 batang coklat beserta sepucuk surat disisinya. aku bergetar. ingin segera mengambilnya namun pengawas ujian telah melirik ku. memberi tanda ujian di mulai. keinginan ku ingin segera bertemu dengan mu memacu ku untuk mengerjakan soal-soal almiah dengan cepat, aku memiliki soal cinta yang lebih menarik pikir ku.
ketika bel tanda ujian selesai, aku segera mengambil benda-benda spesial tersebut dan bergegas keluar pintu. begitu berada di mulut pintu, aku temui kamu telah berdiri manis bersandar di pagar menunggu ku, melihat senyum mu aku tahu kalau kamu memang telah mempersiapkan hari itu. ingin segera aku memeluk mu, namun cepat-cepat kamu menggenggam tangan ku dan berbisik “simpan dalam tas mu, aku malu”. aku melihat sekeliling ku dan memang bunga-bunga,coklat-coklat dan sepucuk surat  itu menarik perhatian mereka. namun aku tidak peduli sedikit pun pada kata-kata mu dan perhatian mereka. aku tetap membawanya dengan kedua tangan ku, tidak aku masukan dalam tas. karena satu-satunya yang aku pikirkan adalah, sayang nanti rusak.
di perjalanan pulang menuju rumah ku, aku terus memandangi benda-benda cantik yang ku letakan baik-baik di atas dashboard mobil itu. dan berulang kali aku membaca sepucuk surat cinta dari mu itu. kemudian aku tersadar ketika kamu yang duduk disamping ku, yang mengendarai mobil dan bercerita tentang bagaimana mendapatkan benda-benda tersebut mengguncang tangan ku yang memang sedari melewati gerbang sekolah tadi telah kamu gengam erat. “kamu tidak mendengarkan aku” kata mu protes. “tidak, aku dengar. aku tahu kamu membeli ini dari adik mu” kata ku membela “aku ingin memfotonya” lanjut ku. “untuk apa?” tanya mu. “kenang-kenangan saja” kata ku seraya tersenyum, kemudian kamu membalas senyum ku yang memang mengerti arti kata-kata ku itu.
dan sampai sekarang foto tersebut masih tersimpan manis di buku catatan yang kita buat, tentang kita. terpasang sempurna di atas kelopak-kelopak mawar merah yang sengaja aku keringkan dan aku tempel di halaman depan buku catatan tersebut dan bersanding manja di samping sekuntum mawar utuh yang juga sengaja ku keringkan.

seberapa banyak mawar yang aku beri untuk mu tidak menggambarkan seberapa banyak rasa sayang dan cinta yang aku miliki untuk mu. ini rasa, hanya mampu dirasai bukan untuk dihitung. hitunglah jika kamu mampu menyebutkan satuannya.
I LOVE YOU

hari itu, hanya satu hari dari sekian hari spesial yang kamu beri untuk ku. berhasil aku simpan baik dalam ruang khusus di memori otak ku dan tercatat indah di setiap halaman buku berbunga mawar itu.

kamu memberikan aku bunga spesial, mawar
dan Tuhan memberikan aku orang spesial, kamu

peluk, kecup dan rindu ku untuk mu.
-Diana Noor Ismail- 

tiba-tiba aku teringat. pada bunga manis yang kamu berikan di hari yang begitu romantis. bagi ku.

aku tahu, ini kali pertama dan entah kapan lagi kamu akan lakukan lagi karena begitu memang bukan diri mu. 

"mau romantisnya atau sayangnya?" kata mu membela kala aku meminta manja perlakuan ala-ala drama special hari valentine. yang kemudian membuat ku menyerah pada jawaban "baiklah,sayangnya. lebih baik tidak romantis tetapi benar-benar sayang daripada romantis tapi tidak benar-benar sayang kan?" kata ku yang telah hafal betul jargon andalan mu itu.

tidak apa, yang penting pernah. toh, pernah lebih baik daripada tidak pernah sama sekali. dan kali ini tanpa ku minta. ditambah dua tangkai mawar berwarna merah dan putih beserta dua bungkus coklat bergambar hati dan ada surat cintanya juga. 

kalau saja teman yang duduk tepat dibelakang ku tidak memberi tahu bahwa ada sesuatu di laci meja ujian ku, mungkin aku tidak akan tahu bahwa ada sesuatu yang spesial di valentine saat itu. ketika ku rogoh laci itu, aku langsung menyentuh benda yang aku kenali sebagai bunga. takut untuk menariknya keluar, aku mengintip laci itu. tertata manis 2 kuntum mawar di atas 2 batang coklat beserta sepucuk surat disisinya. aku bergetar. ingin segera mengambilnya namun pengawas ujian telah melirik ku. memberi tanda ujian di mulai. keinginan ku ingin segera bertemu dengan mu memacu ku untuk mengerjakan soal-soal almiah dengan cepat, aku memiliki soal cinta yang lebih menarik pikir ku.

ketika bel tanda ujian selesai, aku segera mengambil benda-benda spesial tersebut dan bergegas keluar pintu. begitu berada di mulut pintu, aku temui kamu telah berdiri manis bersandar di pagar menunggu ku, melihat senyum mu aku tahu kalau kamu memang telah mempersiapkan hari itu. ingin segera aku memeluk mu, namun cepat-cepat kamu menggenggam tangan ku dan berbisik “simpan dalam tas mu, aku malu”. aku melihat sekeliling ku dan memang bunga-bunga,coklat-coklat dan sepucuk surat  itu menarik perhatian mereka. namun aku tidak peduli sedikit pun pada kata-kata mu dan perhatian mereka. aku tetap membawanya dengan kedua tangan ku, tidak aku masukan dalam tas. karena satu-satunya yang aku pikirkan adalah, sayang nanti rusak.

di perjalanan pulang menuju rumah ku, aku terus memandangi benda-benda cantik yang ku letakan baik-baik di atas dashboard mobil itu. dan berulang kali aku membaca sepucuk surat cinta dari mu itu. kemudian aku tersadar ketika kamu yang duduk disamping ku, yang mengendarai mobil dan bercerita tentang bagaimana mendapatkan benda-benda tersebut mengguncang tangan ku yang memang sedari melewati gerbang sekolah tadi telah kamu gengam erat. “kamu tidak mendengarkan aku” kata mu protes. “tidak, aku dengar. aku tahu kamu membeli ini dari adik mu” kata ku membela “aku ingin memfotonya” lanjut ku. “untuk apa?” tanya mu. “kenang-kenangan saja” kata ku seraya tersenyum, kemudian kamu membalas senyum ku yang memang mengerti arti kata-kata ku itu.

dan sampai sekarang foto tersebut masih tersimpan manis di buku catatan yang kita buat, tentang kita. terpasang sempurna di atas kelopak-kelopak mawar merah yang sengaja aku keringkan dan aku tempel di halaman depan buku catatan tersebut dan bersanding manja di samping sekuntum mawar utuh yang juga sengaja ku keringkan.

seberapa banyak mawar yang aku beri untuk mu tidak menggambarkan seberapa banyak rasa sayang dan cinta yang aku miliki untuk mu. ini rasa, hanya mampu dirasai bukan untuk dihitung. hitunglah jika kamu mampu menyebutkan satuannya.

I LOVE YOU

hari itu, hanya satu hari dari sekian hari spesial yang kamu beri untuk ku. berhasil aku simpan baik dalam ruang khusus di memori otak ku dan tercatat indah di setiap halaman buku berbunga mawar itu.

kamu memberikan aku bunga spesial, mawar

dan Tuhan memberikan aku orang spesial, kamu

peluk, kecup dan rindu ku untuk mu.

-Diana Noor Ismail- 

 01.19.2012 
“rasanya seperti berharap mendapat nila A yang didapati ternyata C. lemas. berharap dimengerti ternyata diminta mengerti. lagi dan lagi.”
 01.18.2012 
there are stars and hill and it’s night. what r u waiting for? lets drive me to that place.

hill  of stars

there are stars and hill and it’s night. what r u waiting for? lets drive me to that place.

hill  of stars

 01.18.2012 

Run

sudah ku katakan pada mu, jangan lagi melawati jalan berbunga itu. aku terlalu takut untuk menginjaknya, membiarkan dahan hijau itu patah pasrah tak membantah. bunga putih itu terlalu bersih untuk diinjak hingga menyentuh tanah coklat membuatnya seperti bernoda.

jangan lewati jalan itu. dan pagi ini kau berlari diatasnya. dengan kedua kaki telanjang mu mencumbui setiap kelopak bunga yang masih berembun.

bukan perihal terlalu pagi atau bunga suci yang kau nodai, tetapi kau sengaja meninggalkan ku.

ini masih terlalu pagi. dan aku sendiri. 

aku pun berlari, menjajaki setiap alter ego mu melewati jalan berperdu untuk sekedar bertemu pada pagi yang terlalu sendu.

namun ini telah melebihi seperdua hari dan aku belum melihat batang hidung mu. aku memang rindu, pada kalbu yang sudah menjerat ku. walau kini berselimut jemu yang melulu bertanda seru.

tadi pagi, sesaat lalu senja dan kini telah malam. kau masih tetap sama, berlari. begitu pun aku, mengejar mu.  sambil menyelesaikan semua tanya, kenapa kamu berlari? dan aku mengejar? terlalu tidak berhargakah hingga kau merusak bunga putih yang aku sukai dan meninggalkannya begitu saja? 

yang kemudian tanya itu menjadi sesak dan pertanyaan besar yang menggerogoti tidak hanya rongga-rongga otak ku namun juga hati ku..kapan kita bisa berjalan beriringan tanpa aku harus tersengal-sengal mengikuti langkahmu dan tanpa harus selalu memperingatkan mu itu jalan berbatu??!

aku sedikit gontai mengejar mu yang bergerak terlalu cepat. meninggalkan ku pada ketiadaan semu.

ini tentang cemburu. pada pagi yang terlalu cerah. pada burung yang terlalu berkicau. pada matahari yang terlalu terik. pada merah yang terlalu merekah. yang begitu mudah ku dapati. tidak sebegitu mudah mendapati mu.

-Diana Noor Ismail-

 01.18.2012 
“Run Run as far as u can. and back back back to me as fast as you can.”
-Dian noor Ismail-
Impression theme by Hello New York.